Menu

Fashion Trendy
  • Drop Down

    • Abstract
    • Model
    • Techo
    • Options
  • Photography Pictures Product

    Drop Menu

    • Crystal
    • Digital
    • Graphs
    • Settings
  • Menu

    Anne Metropolis

    • Home
    • Digital Art
      • Pics
        • SEO 1
        • SEO 2
      • CSS
        • CSS 1
        • CSS 2
        • CSS 3
        • CSS 4
        • CSS 5
      • Jquery
        • Jquery 1
        • Jquery 2
    • Fashion
      • Product 1
        • Sub Item
        • Sub Item
      • Product 2
        • Sub Item
        • Sub Item
    • Photography
    • Design
    Go
    Home » Ekonomi » ’Manajemen Nasi Campur’ Alah Garin Nugroho

    ’Manajemen Nasi Campur’ Alah Garin Nugroho


    ’Manajemen Nasi Campur’ Alah Garin Nugroho - ‘Manajemen Nasi Campur’, agaknya sudah melekat pada diri Garin Nugroho. Produser dan sutradara film ini menamakan pengelolaan hidupnya demikian karena hidup itu tidak perlu yang rumit-rumit, tapi sebaliknya yang gampang-gampang saja dan mudah diatur.

    "Nasi campur itu tidak memerlukan aturan yang rumit, termasuk cara memakannya harus menggunakan sendok dan garpu," kata Garin pada seminar film Indonesia sebagai industri kreatif di Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, Kamis, dikutip laman antaranews.

    Dia mengakui ‘Manajemen Nasi Campur’ ini tidak hanya diterapkan di satu segi kehidupan saja, namun banyak segi kehidupan dalam kesehariannya.

    "Mau dimakan nasi dulu boleh. Demikian juga campurannya boleh apa saja, kangkung boleh. Saya gunakan manajemen nasi campur itu dalam banyak segi kehidupan saya," ujar Garin Nugroho.

    Manajemen nasi campur itu, kata dia, sama juga dengan tanaman tumpang sari.

    Dalam sistem tumpang sari, petani bisa memanen tanaman kapan saja sesuai keinginan dan tidak harus sekaligus.

    "Ada yang panen satu minggu, ada yang satu bulan. Demikian juga saya. Saya membuat (film) iklan agar bisa cepat panen, kayak tumpang sari. Nulis di koran juga agar bisa panen tiga minggu sekali. Kalau seminar kayak begini kan tidak tentu," katanya tersenyum.

    Pria kelahiran Yogyakarta pada 6 Juni 1961 juga mengaku kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak sebagus yang disangka orang.

    "Anak saya bilang, Bahasa Inggris saya itu, salah paham. Bahasa Inggris saya itu salah-salah, tapi orang lain paham,"

    Penulis buku "Opera Sabun SBY: Televisi dan Komunikasi Politik" itu, mengemukakan hanya dua kata atau dua kalimat dalam Bahasa Inggris yang ia andalkan jika berinteraksi dengan insan film dari luar negeri.

    "Cuma tahunya dua, yaitu any question? dan its okay. Biasanya setelah saya tanya any question? tidak ada yang bertanya, ya sudah saya anggap selesai," pungkasnya disambut tawa mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Sastra Unej dan insan film di Jember.
    Ekonomi

    facebook

    twitter

    google+

    fb share

    About play blogger

    Related Posts
    < Previous Post Next Post >
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Terbaru

    BANYAK DIBACA

    MOST TOPIC

    News Sports Kesehatan Celebrity Daerah Kriminal Fenomenal Islami Style Ekonomi Kuliner Traveling Otomotif Blog Gadget Tips

    Copyright © 2015- Anne Metropolis All Rights Reserved | Created by